Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2011

Sikap


Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atauperistiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu.

KomponenUtama Sikap
Sikap mempunyai tiga komponen utama:kesadaran, perasaan, dan perilaku.
Keyakinan bahwa "Diskriminasiitu salah" merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opinisemacam ini adalah komponen kognitif dari sikap yangmenentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap-komponen afektifnya. Perasaan adalah segmen emosionalatau perasaandari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti "Saya tidakmenyukai John karena ia mendiskriminasi orang-orang minoritas." Akhirnya,perasaan bisa menimbulkan hasil akhir dari perilaku. Komponen perilaku dari sebuah sikapmerujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadapseseorang atau sesuatu..

PerilakuMengikuti Sikap
Pada akhir tahun 1960-an, hubunganyang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang olehsebuah tinjauan dari penelitian. Berdasarkan evaluasi sejumlah penelitian yangmenyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjaumenyimpulkan bahwa sikap tidak berhubungan dengan perilaku atau, paling banyak,hanya berhubungan sedikit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sikapmemprediksi perilaku masa depan secara signifikan danmemperkuat keyakinan semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisaditingkatkan dengan memperhitungkan variabel-variabel pengait. 

SikapKerja Utama

KepuasanKerja
Kepuasan kerja adalah perasaanpositif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasikarakteristik-karakteristiknya. 

KeterlibatanPekerjaan
Keterlibatan pekerjaan adalahtingkat di mana seseorang memihak sebuah pekerjaan, berpartisipasi secara aktifdi dalamnya, dan menganggap kinerja penting sebagai bentuk penghargaandiri. 

KomitmenOrganisasional
Komitmenorganisasional adalah tingkat di mana seseorang memihak sebuah organisasiserta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalamorganisasi itu. Tiga dimensi terpisah komitmen organisasional adalah:
  • Komitmen Afektif
  • Komitemn Berkelanjutan
  • Komitmen Normatif

Remaja




Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja

Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi.

Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidak mampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
 Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Sumber: http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html

Rabu, 16 Februari 2011

Kebahagiaan Adalah Anugrah

Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Alloh.

Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.
Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya, bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.
Pertama, takdir. Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan, terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya.

Allah berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلاَ فِيَ أَنفُسِكُمْ إِلاّ فِي كِتَابٍ مّن قَبْلِ أَن نّبْرَأَهَآ إِنّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرٌ

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena ketabahan itu muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.

Allah berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ إِلاّ بِإِذْنِ اللّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللّهُ بِكُلّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (Ath Thaghabun: 11)

Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu.
Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar.

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُواْ جَنّةً وَحَرِيراً

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera…” (Al Insan: 12)

Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin, memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terdapat di dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh pada lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.

Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan dengan khusu‘ dan dibarengi dengan kesabaran jiwa…

يَآأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ إِنّ اللّهَ مَعَ الصّابِرِينَِ
“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqoroh: 153)

Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang cukup menarik. Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering muncul, karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah berbahagia, karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam jiwanya. Di saat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih, karena rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!

“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)

Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang muslim ketika usaii menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang ia ungkapkan, menjadikannya nilaii lebih. Meskipun secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii saat terjadi musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohihnya I: 430)

Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan penentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya.
Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.
“Orang yang melaksanakan ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia, karena ibadah puasanya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukari II: 673, oleh Muslim II: 807 dan At Tirmidzy III: 137)

Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata dan pasti, karena merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan lain. Yaitu takdir Allah dan usaha manusia dengan cara yang benar dan ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman, kebahagiaan hanyalah merupakan ‘letupan’ sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya, atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah sesaat, karena tidak memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.

Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun ’sejuta manusia’ menggapai langit dan menggali bumi, demi kebahagiaan sejati.

Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati.


Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.


Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala kesukaan kami terhadap segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya, kehambaan kami bertahan hingga kini.


Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.


Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga akherat, berkenan menyambutmu…

Sumber : http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/kebahagiaan-adalah-anugrah.html

Etimologi Kematian

Erich Fromm (1900-1980) mengkritik sindrom kehancuran dalam masyarakat industri modern (The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil, 1964). Masyarakat seperti itu memuja-muja kekuatan dan kecepatan.
Organisasi sumber-sumber sosial dan ekonomi mengambil bentuk industri besar, produksi pabrik, dan konsentrasi pekerja di kota. Dalam industrialisme industrialisme yang menguasai kehidupan sehari-hari, manusia diperlakukan seperti sekrup mesin. Dalam masyarakat kebendaan, kemanusiaan mengalami reifikasi. Benda tidak perlu merupakan sesuatu yang hidup.
Dua naluri
Dalam observasinya, Fromm mempertentangkan sindrom kehancuran dan sindrom pertumbuhan. Sebelum itu, Sigmund Freud (1856-1939) mengategorikan naluri seksual dan naluri ego sebagai saling bertentangan, meski kedua macam naluri itu melayani kelangsungan hidup. Lalu, realitas buruk Perang Dunia I membuat Freud memodifikasi hipotesisnya. Naluri kehidupan dan naluri kematian adalah substansi kehidupan (Beyond the Pleasure Principle, 1920).
Literatur Freudian mempertentangkan naluri kehidupan (eros) dan naluri kematian (sebagian orang menyebutnya thanatos). Ciri naluri kehidupan adalah penyatuan dan integrasi. Naluri kematian berciri pemisahan dan disintegrasi. Kehidupan harian menjadi ajang persaingan kedua naluri itu, yang dimenangi kematian. Kecenderungan destruktif biasanya dihubungkan karakter anal-sadistis.
Polaritas naluri itu dikritik sebagai bertentangan dengan realitas normal. Menurut Fromm, meski orientasi patologis yang membentuk sindrom kehancuran adalah nekrofilia (cinta kematian), orientasi menyeluruh cara berada manusia adalah biofilia (cinta kehidupan) sebagai sindrom pertumbuhan.
Tiap orang memiliki orientasi nekrofilia dan biofilia dengan intensitas berbeda. Jarang ditemui bentuk ekstrem orientasi nekrofilia yang termasuk kategori gila, yakni orang menghancurkan demi kehancuran dan membenci demi kebencian. Juga jarang ditemui biofilia murni seperti ditemui dalam diri orang kudus.
Naluri kehidupan inheren dalam diri manusia, seperti dalam proses biologis, perilaku, dinamika emosi dan pikirannya. Orang mau hidup dan pada dasarnya mencintai kehidupan. Naluri kehidupan bentuk paling elementer orientasi biofilia. Insan biofilia secara spontan tertarik pada kehidupan. Ia tak perlu terpaksa berbuat baik, seperti sedang diawasi superego. Namun, tiap orang harus memilih bagi dirinya sendiri kebaikan atau keburukan, kehidupan atau kematian.
Nekrofilia
Di antara pelbagai orientasi hidup, nekrofilia paling berbahaya. Bentuk ekstremnya, slogan “Hidup kematian!” Nekrofilia sebuah penyimpangan orientasi hidup. Mestinya orang hidup mencintai kehidupan, bukan kematian, pertumbuhan bukan kehancuran. Namun, insan nekrofilia memakai kekuatan untuk menghancurkan, bukan menghidupkan, membela kehidupan, atau mendorong pertumbuhan.
Ketika kekuatan menjadi karakteristik cara berada, sadisme sudah dekat. Nekrofilia pun berkembang menjadi membunuh. Nekrofilia adalah esensi keburukan, akar kehancuran dan inhumanitas. Nekrofilia memberi kontribusi pada siklus kematian, terhentinya pertumbuhan, disintegrasi, dan kehancuran.
Kekuatan yang terstruktur dalam suatu mekanisme sosial menyumbat aspirasi alternatif, membelenggu kebebasan, menghambat perkembangan, mengerdilkan potensi, menyeragamkan keragaman, melumpuhkan daya kreatif. Atas nama hukum, mayoritas bisa membungkam minoritas kreatif. Penghakiman mekanistis hitam-putih menutup mata terhadap kebenaran yang tak ditentukan dari paradigma mayoritas-minoritas.
Orientasi kultur kita cenderung nekrofilia, apakah itu kultur keseharian maupun politik. Karakteristik kultur nekrofilia adalah tidak peduli harkat manusia. Di Jakarta, mudah ditemui jalan raya berlubang besar dibiarkan berbulan-bulan. Lubang itu mencelakakan pengendara motor terutama di malam hari.
Hingga kini korban Lapindo terus berjatuhan. Banyak warga tiba-tiba jatuh miskin dan kehilangan masa depan. Pengusaha bangkrut. Transportasi antarkota kacau. Kinerja perekonomian nasional terganggu. Kekuatan kapital dan kekuasaan tidak berpihak kepada korban.
Kultur keseharian kita memuja kekerasan. Kita memberi diri dihibur dengan tontonan orang bergulat di layar televisi. Perkara kriminal yang sadis dan seluk-beluk pengungkapannya ditayangkan sebagai hiburan televisi. Tontonan yang menghambat perkembangan biofilia.
Pemerintah belum mampu menjinakkan aksi main hakim sendiri. Kultur nekrofilia tampak dalam tawuran antarkampung, antarkelompok, bahkan yang tidak semestinya adalah antarpelajar dan antarmahasiswa. Pendukung massa kandidat kepala daerah melampiaskan kekecewaan dengan aksi vandalisme.
Jika kultur nekrofilia dibiarkan berkembang tanpa mendekonstruksinya secara sistematis, peradaban bangsa akan hancur. Sekarang saja ada keraguan sebagian orang apakah bangsa Indonesia masih bisa disebut ramah dan toleran. Karena itu, mendesak pembangunan masyarakat biofilia yang menjunjung tinggi kehidupan. Dalam etika biofilia, yang baik adalah hormat kepada kehidupan, melayani kehidupan, memperluas kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan.
Prakondisi sosial
Pemerintah bertanggung jawab membangun masyarakat biofilia, terutama dalam bidang penegakan hukum dan politik kesejahteraan. Yang paling jelas adalah pemerintah harus bertanggung jawab menyejahterakan rakyat. Akses kebutuhan minimum untuk hidup bermartabat harus terjamin.
Karena itu, ketidakadilan harus dihapus. Kehidupan bermartabat tak berkembang dalam kondisi eksploitatif. Namun, kesejahteraan dan keadilan saja tidak cukup kondusif untuk perkembangan biofilia. Harus ada atmosfer yang kondusif bagi kebebasan “dari” dan “untuk”. Bukan hanya bebas dari penindasan, tetapi juga bebas untuk berkreasi, berimajinasi, berpetualang.
Kebebasan yang tak melanggar kebebasan pihak lain untuk melakukan hal yang sama menuntut sikap aktif dan tanggung jawab. Tanpa kebebasan seperti itu, kreativitas warga tak berkembang. Maka, pemerintah wajib melindungi warga dari legislasi yang membatasi kebebasan secara berlebihan dan dalam jangka panjang menghasilkan anggota masyarakat bermental legalistis.
Maka, pemerintah bertanggung jawab memberdayakan rakyat agar produktif dan tidak konsumtif. Rakyat harus difasilitasi dan diberi insentif untuk berproduksi. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab melindungi warga terutama kalangan buruh dari diperalat demi tujuan-tujuan lain di luar dirinya. Hidup dengan martabat adalah karakteristik masyarakat biofilia.

Senin, 14 Februari 2011

Berjuang Dan Berkurban Adalah Jalan Menuju Derajat Mulia

Dalam Islam kita mengenal dua hari raya, yaitu Idul fitri dan Idul-Qurban. Dua bulan yang lalu kita bersama-sama di masjid ini menunaikan sholat Idul Fitri, setelah sebulan penuh berpuasa. Idul Fitri, kita pahami sebagai hari, di mana kita berharap kembali kepada kesucian, menjadi suci, suci dari dosa, memperoleh ampunan dari Allah swt, setelah dengan ikhlas menyelesaikan puasa dan sholat malam (qiyamullail) di bulan ramadhan.

Pagi ini kita berada di tempat yang mulia ini pula, bersama-sama melaksanakan sholat Idul Adha, yang juga disebut sebagai Idul Qurban, atau orang juga meyebutnya hari raya haji. Jika Idul fitri, kita berharap menjadi suci, yaitu suci dari dosa dan memperoleh ampunan, maka pada hari raya qurban, kita sebagai orang muslim, mukmin dan muttaqin berharap kepada Allah swt. agar menjadi orang yang siap melakukan pengorbanan agar memperoleh kebesaran dan kemuliaan. Kebesaran maupun kemuliaan seseorang, menurut ajaran Islam, selalu ditempuh lewat berjuang dan berqurban.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
Kaum muslimin yang berbahagia.

Sejarah mencatat bahwa dalam perjalanan hidup manusia terdapat banyak orang yang menyandang nama besar. Namanya diingat oleh sebagian besar manusia, riwayatnya dipelajari, tingkah lakunya dijadikan pedoman, semangatnya dijadikan sebagai bahan untuk menggerakkan masyarakat, dan namanya dikenang sampai berlama-lama.

Dalam sejarah bangsa kita misalnya, kita kenal nama-nama Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Hasanuddin, Sultan Agung, Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KiHadjar Dewantoro, K.H. Hasyim Asy’ari, dan masih banyak lagi. Nama-nama tersebut, saya yakin, tidak akan segera hilang dalam ingatan bangsa Indonesia.

Nama-nama para pejuang tersebut diingat oleh begitu banyak orang dan dalam waktu yang sedemikian lama. Sebaliknya, nama sejumlah besar orang lainnya begitu cepat terlupakan dan bahkan tidak dikenal, kecuali oleh keluarga dan teman-temannya secara terbatas. Salah satu sebabnya, karena para pahlawan itu berbeda dari banyak orang pada umumnya. Para pejuang itu di masa hidupnya pernah meninggalkan sesuatu yang amat berharga bagi kehidupan.

Para pejuang hingga memiliki nama besar itu tidak hanya berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri, melainkan berpikir dan berbuat untuk masyarakatnya, untuk bangsanya dan bahkan tidak saja terhadap yang hidup ketika itu, melainkan juga kepada mereka yang hidup pada masa-masa kemudian. Kata kuncinya ialah, bahwa kebesaran nama yang disandang itu diperoleh dari perjuangan dan pengorbanan yang telah mereka berikan semasa hidupnya.

Dua kata kunci, yakni berjuang dan berkorban, tampaknya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Berjuang pasti memerlukan pengorbanan. Sebaliknya, berkorban pasti untuk sebuah perjuangan. Gabungan dua kata yang selalu disebut bersama-sama ini menjadi terlalu indah didengar dan dirasakan. Apalagi, kalau sudah menjadi bentuk perbuatan nyata, pasti membuahkan nama besar bagi pelakunya.

Namun sayangnya, banyak orang yang berkeingian berjuang, tetapi tidak bersedia untuk berkorban. Orang mau berjuang, tanpa berkorban tidak akan berhasil, bahkan tak akan terjadi perjuangan. Karena beratnya menjadi pejuang itu, lalu betapa sedikitnya jumlah nama-nama pejuang kita. Islam mengajarkan, agar kita menjadi pejuang yang sesungguhnya, dan bukan menjadi orang yang hanya mendambakan keuntungan untuk dirinya sendiri.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd
Kaum muslimin yang berbahagia.

Dalam suasana hari raya kurban seperti sekarang ini, lewat kisah yang bisa dibaca dalam kitab suci Al Qur‘an, sebagai seorang mukmin kita diingatkan oleh Allah tentang kehidupan seorang yang menyandang nama besar, ialah Nabi Ibrahim as. Di antara para Rasul, Ibrahim memperoleh sebutan khusus yaitu khalilullah (kekasih Allah) (Q.S. Al-Nisa': 125). Sebutan itu diterima olehnya, karena Ibrahim telah berhasil menapaki puncak kemusliman dan ketaqwaannya, satu di antaranya lewat beberapa pengorbanan besar yang pernah ia lakukan.

Kebesaran nama Ibrahim yang diperoleh lewat pengorbanan itu, lalu diabadikan dalam syari’at Muhammad saw, melalui haji dan berkorban seperti yang kita laksanakan dan saksikan sekarang ini. Secara lebih jelas dan rinci, Nabi Ibrahim yang menyandang nama besar hingga menjadi khalilullah, dalam sejarah hidupnya telah menunjukkan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa, antara lain:

Pertama, ialah kesungguh-sungguhannya dalam berjuang mencari Islam. Keislaman Ibrahim, diperoleh melalui proses pencaharian yang berat, sehingga keislaman Ibrahim didasarkan atas pengertian, pemahaman, dan kesadaran yang mendalam. Kebenaran Islam diimani dan diamalkan bukan hanya karena ikut-ikutan, dan bukan pula tanpa pengertian dan pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari perjuangan Ibrahim, dalam proses pencaharian TuhanNya.

Ibrahim, ketika ia melihat bintang, ia simpulkan bahwa bintang adalah tuhan; begitu dilihat bulan yang lebih besar bentuknya dari bintang, ia berubah menuhankan bulan. Selanjutnya, ketika ia melihat matahari, yang lebih terang, keyakinannya berubah pula, ia segera sujud bersimpuh menghadap matahari, tuhan baru yang ia temukan. Tetapi hebatnya, tatkala dalam kebingungan lantaran matahari yang dianggap tuhannya itu terbenam, begitu Allah berfirman "aslim", Islamlah engkau wahai Ibrahim, dengan penuh kesungguhan Ibrahim menyatakan saya Islam (Q.S. Al-Baqarah: 131), Ia pasrah kepada Allah seru sekalian alam. Keimanan yang diperoleh lewat pergumulan perjuangan, melahirkan sikap penyerahan diri secara total, tidak ragu-ragu, menerima sepenuh hati kebenaran dari Yang Maha Benar.

Kedua, perjuangan Ibrahim dalam upaya membuktikan iman dalam sikap dan tindakannya, seperti ketika menghadapi ujian yang diberikan Allah (Q.Al-baqarah 124). Ibrahim hidup pada saat penguasa dan masyarakat terlena dalam penyembahan berhala. Tidak seorang pun pada waktu itu berani menyatakan salah terhadap yang dilakukan oleh umat manusia di sekelilingnya, apalagi hal itu didukung oleh penguasa. Tapi ... Ibrahim dengan kekokohan tauhidnya, berani menyatakan salah terhadap sesuatu yang ia yakini salah. Ia hancurkan berhala-berhala sesembahan masyarakat saat itu. Kisah Ibrahim tentang hal itu, dapat kita simak dalam Al Qur’an surat Ash-shoffat ayat 85-99. Ibrahim untuk mempertahankan keyakinannya ia harus berkorban, dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Tetapi, atas pertolongan Allah, lewat mu’jizat-Nya ia selamat.

Ketiga, pengorbanan Ibrahim juga dapat dilihat ketika ia melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih satu-satunya putra yang amat dicintainya, Ismail. Peristiwa ini adalah sebagai puncak keimanan Ibrahim. Pengorbanan Ibrahim yang dahsyat. Sungguh patut kita renungkan, siapakah dalam kehidupan ini yang siap dan ikhlas mengorbankan sesuatu yang ia miliki dan bahkan yang paling ia cintai, untuk Allah.

Keempat, perjuangan dan pengorbanan Ibrahim lainnya ialah dalam upaya mendidik generasi berikutnya. Ibrahim berhasil membentuk keimanan generasi sesudahnya. Hal itu bisa kita lihat dengan jelas, betapa dengan tegas Ismail meminta ayahandanya untuk tidak ragu-ragu menyembelihnya (Q.Ashaffat 102), ingatlah cucu Ibrahim, anak Ya’kub, dengan tegas menyatakan kesetiaannya untuk selalu menyembah Allah (Q.Al-Baqarah 133).

Memperhatikan kisah singkat Nabi Ibrahim itu, kita dapat mengambil ibrah bahwa untuk menjadi manusia yang menyandang nama besar harus dengan perjuangan sejati dan pengorbanan besar. Paling tidak, lewat kisah Ibrahim itu, ada tiga hal mendasar yang perlu kita tangkap, yaitu: pertama, ketauhidan yang kokoh, yang diperoleh lewat perjuangan. Kedua, contoh kesediaan berkorban yang berat,  melepaskan sesuatu yang paling dicintai untuk orang lain, dan ketiga, kesediaan membangun manusia mendatang lewat pendidikan generasi berikutnya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
Kaum muslimin yang berbahagia.

Lebih jauh, peringatan tentang betapa pentingnya perjuangan dan pengorbanan ini, juga ditunjukkan lewat kisah Habil dan Qobil putra Adam AS. Lewat kisah itu kita ditunjukkan bahwa pengorbanan tidak cukup dengan benda murahan, apalagi tidak diikuti oleh sikap tulus dan penuh keikhlasan. Apa yang harus kita korbankan ternyata seharusnya adalah hal yang justru kita pandang baik, yang berharga dan yang berkualitas tinggi, sebagaimana qurbannya Habill. Dan sebaliknya, apa yang kita korbankan tidak selayaknyahanya hal yang sederhana kualitasnya, yang sedikit jumlahnya, apalagi sekedar barang sisa; sebagaimana kisah Qobil sehingga ditolak oleh Alllah.


Selain lewat berbagai kisah tersebut perintah berkorban secara tegas juga dapat kita baca dalam Al Qur’an surat Al Kautsar , artinya :

"Sungguh Aku telah memberi engkau nikmat yang banyak, maka sholat dan berkorbanlah untuk Allah. Dan barangsiapa yang membenci engkau Muhammad, ia akan putus atau punah".


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Saat ini, kita belum sepenuhnya dapat menyelesaikan persoalan yang menimpa bangsa ini. Bangsa kita pada saat ini masih kaya akan masalah. Kemiskinan, kebodohan, terbatasnya lapangan kerja, pendidikan yang belum merata, konflik antar elite yang berkepanjangan. Semua itu ternyata menjadi sumber persoalan kehidupan bangsa ini. Setiap hari kita masih disuguhi oleh berita yang menyusahkan. Di antaranya, berita tentang betapa banyaknya para buruh harus ke luar negeri hanya mencari sesuap nasi, berebut lapangan kerja. Selain itu setiap hari kita jumpai di mana-mana orang miskin dan anak-anaknya meminta-minta di pinggir jalan. Selain itu, masih ada saja bangunan sekolah tidak layak dan bahan ambruk. Guru yang tidak mendapatkan gaji semestinya dan lain-lain.

Selain itu tidak sedikit warga masyarakat yang selalu mendapatkan beban psikologis. Beban hidup itu, akhir-akhir ini menjadi terasa amat berat dan serba tidak menentu. Pekerjaan semakin sulit dicari, sementara yang masih untung memiliki pekerjaan, gaji yang diterima tidak seimbang dengan kebutuhan sehari-hari yang selalu meningkat yang diakibatkan oleh kenaikan harga. Suasana yang tidak menggembirakan itu masih ditambah lagi, persoalan yang tidak kurang rumitnya seperti dekadensi moral, penyalahgunaan obat terlarang, kenakalan remaja, dan berbagai macam persoalan lagi, baik yang berskala besar maupun kecil mewarnai kehidupan kita saat ini.

Menghadapi persoalan-persoalan tersebut maka di sinilah sesungguhnya lagi-lagi diperlukan perjuangan dan pengorbanan kita secara kongkrit. Merasa acuh, tak peduli terhadap penderitaan orang lain adalah bukan watak seorang muslim. Islam memberikan tuntunan hidup agar supaya kita sesama muslim saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Rosulullah Muhammad saw., memerintahkan agar kita saling mencintai dan berbuat baik. Bahkan dalam suatu riwayat beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang jika ia tidak mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri".

Secara lebih jelas lagi, bagaimana sikap yang harus dibangun oleh seorang muslim tatkala mendapatkan orang lain yang sedang mengalami kesulitan tergambar dalam surat Al-Maun. Dalam surat itu, Allah dengan tegas menegur hamba-Nya yang tidak mempedulikan orang-orang yang lagi kesulitan, yaitu :

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama; Itulah orang yang menghardik anak yatim; Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin; Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat; (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya; Orang-orang yang berbuat riya; Dan enggan menolong dengan barang berguna".

Lewat ayat ini, ternyata Islam memang ajaran agung, mengajak umatnya agar tidak bersifat individualis, mementingkan diri sendiri. Bernikmat-nikmat di tengah orang susah adalah dianggap cela dan mendustakan agama. Sikap seperti itu dianggap, tidak manusiawi, bukan sikap terpuji bagi seorang muslim. Bahkan, jika kita tidak memperhatikan yang yatim, yang miskin, yang kekurangan, yang dhuafa^, maka sesungguhnya kemusliman dan keimanan kita dipandang oleh Alllah, sebagai masih berkadar lemah dan bahkan masih bohong belaka. Tentu, kita semua tidak akan mau disebut menjadi pembohong-pembohon agama.

Selain itu, dalam menghadapi suasana yang tidak terlalu menggembirakan seperti sekarang ini, Al Qur’an memberikan petunjuk apa yang harus kita jaga dan lakukan, yaitu:
  1. Kita harus selalu memperkokoh keimanan, keyakinan, dan ketaqwaan; 
  2. Selalu membangun dan menyambung sillaturrahmi seluas-luasnya dan 
  3. Selalu menghindar dari melakukan kerusakan dalam berbagai bentuk dan skalanya. 
Hal itu dapat kita baca dalam surat al Baqoroh ayat 27 yang berbunyi : "(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi."

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
Kaum muslimin yang berbahagia.

Akhirnya, marilah bersama-sama kita tingkatkan keimanan, keislaman dan ketaqwaan kita. Marilah kita hilangkan sikap yang hanya mementingkan diri sendiri, sikap yang sangat merugikan bagi kita semua, sikap yang tidak peduli kepada orang lain, yang lemah yang sedang tertimpa kesusahan. Sesungguhnya, menjadi kewajiban kita semualah mewujudkan satu kehidupan damai, penuh kasih sayang, tolong menolong di antara kita kaum muslimin dan umat manusia pada umumnya. Pada pertemuan yang suci ini, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah swt, dengan harapan perjumpaan ini membawa hikmah yang besar bagi bangkitnya semangat perjuangan dan pengorbanan kita, dengan tetap ikhlas karena Allah.
Diantara ciptaan Alloh SWT yang ada dalam tubuh kita, ada yang namanya qolbu (hati). Dinamai qolbu karena secara bahasa ia bermakna bolak-balik. Dalam keseharian, kita bisa merasakan sendiri keadaan bolak balik ini. Di pagi hari kita merasa bahagia dan semangat beribadah, namun siang menjadi sedih, sore kecewa, dan malam terasa malas. Jadi penamaan kata qolbu (hati)  ini bukanlah didasarkan pada bentuk atau wujud lahirnya namun berdasarkan pada esensinya.
Perubahan-perubahan yang cenderung ke hal negatif biasanya karena hati sedang tidak khusyu, mengalami ujian hidup atau lupa tentang tujuan hidup. Sehingga yang paling dominan dalam menjaga atau mengobati hati bukanlah orang lain tetapi diri kita sendiri. Kalau hati diibaratkan sebagai tanaman, maka ia harus sering disiram dan dipupuk. Dan kalau hati diibaratkan sebagai aki, maka ia harus sering di-charge. Nabi Muhammad SAW mewariskan suatu do’a terkait dengan usaha menjaga hati yaitu, “Allohumma inni a’udubika min qolbin la yahsa..” yang artinya, Ya Tuhanku, aku memohon dipelihara dari hati yang tidak khusyu“.

Gerakan tubuh kita misalnya berbicara, menggerakkan tangan, berjalan, berdikir, dan lain-lain pada dasarnya digerakkan oleh hati. Rasululloh berkata, Kalau hati beres, maka organ tubuh yang lain akan merefleksikan gerakan yang baik. Namun sebaliknya jika hati tidak beres, maka seluruh tubuh akan tidak baik”.

Maka sering-seringlah kita menjaga hati  tetap khusyu, agar output yang dihasilkan oleh tubuh kita pun hasilnya baik. Kita bisa tersenyum dengan tulus dan ikhlas kepada orang lain, bertutur kata santun, tidak menyakitkan serta terhindar dari tindakan negatif misalnya berpikir negatif, iri, menyalahkan orang lain, kebencian, marah, permusuhan, rival, dan lain-lain.

Dalam sebuah hadits, Nabi berkata, “Ilmu pertama yang akan diangkat dari bumi adalah ilmu khusyu hati”, Sehingga sering-seringlah berdoa agar kita mendapatkan Qolbun Salim, hati yang yang bersih dengan iman, taqwa, syukur dan sabar sebagaimana tercantum dalam QS Al-Imran 8, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah maha pemberi”.

Ungkapan dari Sang Bijak


Seoranghidup baik jika masih mempunyai rasa malu, Kayu tetap awet jika masih dibalutkulit, Demi Allah tidak ada kebaikan dalam hidup dunia maupun akhirat jika rasamalu hilang.
Kenyamanantubuh karena sedikit makan, Kenyamanan jiwa karena sedikit dosa, KenyamananHati Karena sedikit keinginan.
Al-Fudhail berkata : “ Seorangalim masih dianggap bodoh atas apa yang ia ketahui, sampai ia mengamalkannya…. “
Hatiadalah wadah rahasia, bibir adalah gemboknya, sedangkan lisan adalah kuncinya.Hendaklah setiap oramg menjaga kunci rahasianya..
Janganlahrisau akan nikmat-nikmat yang belum engkau miliki, tetapi risaulah akan nikmatyang belum engkau syukuri.
Kesukesankerja tidak diukur hanya dengan banyaknya harta yang didapat, tapi jugabagaimana menyisipkan sebagian kelebihan harta tersebut untuk membantu sesama.
Manusia selalumencari naungan dari panasnya mathari, tapi ia lupa mencari naungan daripanasnya api neraka.
Jika kamumencintai sesuatu atau orang lain, janganlah kau pandang dari segi fisiknyasaja, tapi lihatlah juga ia dari kesucian hati dan keteguhan imannya, itu akanmembuatmu menjadi lebih berarti.
Jadilahengkau orang sabar dan bersyukur, sebab sabar menambah pahala dan syukur akanmenambah sezeki.
Imam syafi’i berkata : “semua manusia adalah mati kecuali orang yang berilmu, semua yang berilmuterlelap kecuali yang beramal, yang beramal tertipu kecuali yang ikhlas dalamamalannya….”
Orangyang paling lemah adalah yang lemah menjaga rahasianya,
Orangyang paling kuat adalah yang kuat menahan amarahnya,
Orangyang paling sabar adalah yang bisa menyembunyikan kefakirannya, dan
Orangyang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah terhadap apa yang sedikit.
Sumber : http://pitonosmkteladanpukat.wordpress.com/2009/06/16/kata-kata-bijak-disadur-dari-kekasih-hati/